Curhat Neta: MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM AS

Sabtu, 19 Maret 2011

MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM AS


اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لاَإِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
لاَإِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ 
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيْدَ لِسَـائِرِالأَيَّامِ سَّـيِّدًا وَجَعَلَ سَـائِرَالْعِبَادِ رَاكِعًـا سَـاجِدًا مُكَبِّرًا وَمُسَبِّحًـا مُهَلِّلاً حَامِدًا  
أَشْـهَدُ أَنْ لاَإِلَـٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْـهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ
 أَللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَـلِّمْ عَلَى خَيْرِ الأَنَامِ شَفِيْعِ الأُمَمِ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ
وَالتَّـابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ يَتَّبِعُهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىْ يَوْمِ الدِّيْنِ
 ( أَمَّابَعْدُ)
فَيَاعِبَـادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى وَلَغَى

Kaum Muslimin Jama'ah Iedul Adlha Rahimakumullah !
              Meskipun cuaca agak sedikit mendung, namun bagi kita tiada untaian kata dan rangkaian kalimat yang patut kita ungkapkan sebelum segala sesuatunya, kecuali ucapan syukur “Alhamdulillah” kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas segala rahmat dan nikmatNya yang telah dianugrahkan kepada kita sekalian, sehingga sampai saat ini kita masih diberi kemampuan untuk dapat melaksanakan semua kewajiban kita, baik yang sifat vertikal langsung kepada Allah maupun kewajiban kita yang sifatnya horizontal, yaitu kewajiban antar sesama umat manusia. Kesyukuran terhadap nikmatNya, baik melalui gerak hati, ucapan lisan maupun perbuatan anggota tubuh merupakan satu bukti dari keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana anjuran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam haditsnya, kata beliau : “Ittaqillaha haitsuma kunta” (bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada), “Wa Atbi’issayyiatal Hasanatu Tamhuha” (dan iringilah perbuatan buruk itu dengan amal baik yang dapat menghapusnya), “Wa Kholiqinnaasa Bikhuluqin Hasanin” (dan pergaulilah manusia itu dengan akhlaq yang mulia). (HR. Turmudzi)
            Shalawat dan salam mudah-mudahan selalu tercurah kepada penunjuk jalan kita, baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita dan menghantarkan kita kepada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. Yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalannya orang-orang yang dilaknat dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.
  
Kaum Muslimin rahimakumullah !
              Pada hari ini, tiada gunung, bukit, ngarai, tebing dan celahan batu yang tidak terpenuhi oleh gemuruh takbir, tahlil, tasbih dan tahmid yang dikumandangkan oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia, baik mereka yang tinggal di ujung masyrik sampai mereka yang tinggal diujung maghrib, sejak terbenamnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai berakhirnya hari-hari tasyrik. Gemuruh takbir, tahlil, tasbih dan tahmid pada hari ini bersaut-sautan dengan gemuruh talbiah “Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika La Syariikalaka Labbaik, Innalhamda Wanni’mata Laka Walmulk, La Syariikalak”  dikumandangkan oleh para jama’ah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai-macam perbedaan; ras, suku, bangsa dan bahasa. Namun semua perbedaan-perbedaan itu mereka tanggalkan dan mereka tanggalkan, yang ada dalam diri mereka hanyalah kesamaan iman dan islam untuk berkumpul di suatu tempat yang gersang dan tandus, melaksanaan ibadah haji dengan penuh rasa cinta akan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, rasa takut akan sisksaNya akibat dosa yang selama ini mereka lakukan, dan rasa penuh harapan akan magfirahNya untuk memabrurkan haji mereka, menerima sya’i mereka dan meridhoi perniagaan mereka.
Sebab seseorang yang tengah melaksanakan ibadah haji, seakan-akan mereka sedang berniaga, berdagang menawarkan iman, islam dan ibadahnya kepada Allah. Wajar jika kemudian mereka  diantara harapan dan kecemasan, apakah iman, islam dan ibadah mereka akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hanyalah keikhlasan mereka yang akan membuat iman, islam dan ibadah serta perniagaan mereka di tanah suci diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
FirmanNya dalam Surat Al-Kahfi 110 :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَـآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صٰلحًا وَ لاَ يُشْرِكْ بِعِبَـادَةِ رَبَّهِ أَحَدًا.
“Maka barangsipa yang menginginkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal shaleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Kaum Muslimin rahimakumullah !
            Pada hari Kamis tanggal 09 Dzulhijjah kemarin dari waktu sebelum dhuhur sampai menjelang waktu ‘Isya tadi malam seluruh jama'ah haji terpusat (berkumpul) di sebuah padang tandus, yaitu padang Arafah yang terletak di kaki Gunung (Jabal) Rahmah untuk melaksanakan wukuf (berhenti sejenak) bersimpuh di hadapan Allah sambil menyebut dan mengagungkan namaNya. Satu hal yang patut kita ketahui bersama, bahwa wukuf di Arafah merupakan moment terbaik bagi mereka (jama'ah haji) untuk meminta segalanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka minta ampunan dari segala dosa, di sanalah tempatnya. Mereka minta kesejahtraan dan kehagiaan hidup di sanalah tempat. Mereka minta kelanggengan hidup berumah tangga, bahkan minta pasangan hidup yang shaleh maupun yang shalehah di sanalah tempatnya; bukan di kuburan-kuburan, apalagi tempat-tempat perdukunan yang dilarang Allah dan rasulNya.


            Dan yang amat kita hawatirkan adalah perbuatan-perbuatan sesat, perbuatan menyimpang bahkan kesyirikan mereka lakukan pada saat menunaikan ibadah haji. Fakta real yang pernah terjadi dan menjadi catatan Kerajaan Saudi Arabia, diantara : Kiswah (kain pelindung Ka'bah) tidak akan ditanggalkan pada setiap musim haji, kalau tidak karena sebahagian jama'ah haji suka mengguntingnya untuk dijadikan jimat, sumur Zamzam tidak akan dijaga oleh polisi kerajaan kalau tidak karena sebahagian jama'ah haji ada yang suka mencuci kain ihramnya dengan air tersebut untuk tujuan yang tidak syar'i, bahkan polisi kerajaan Saudi Arabia sampai saat ini melarang jama'ah haji untuk mengambil gambar tempat-tempat suci melalui kamera, karena dihawatirkan gambar-gambar tersebut akan dijadikan jimat dan semacamnya. Jika itu yang mereka lakukan, perbuatan tersebut akan menggugurkan ibadah mereka, bahkan membatalkan keislaman mereka.
Firman Allah SWT dalam Surat Az-Zumar 65 :
"Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi".

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd !
Kaum Muslimin rahimakumullah !
          Kemudian, mari sejenak kita mengingat kembali sebuah peristiwa agung yang patut kita teladani dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menata kehidupan di masa yang akan datang selama hayat masih dikandung badan. Yaitu sebuah peristiwa yang pernah terjadi atas keluarga Ibrahim As menjelang detik-detik kedatangan Hari Raya Qurban atau ‘Iedul Adlha. Peristiwa tersebut tidak hanya termaktub dalam Al-Qur’an, tetapi peristiwa tersebut termaktub pula dalam kitab Taurat maupun Injil secara esensial. Oleh karenanya, baik kaum muslimin, nasrani dan yahudi semuanya mempercayai dan meyakini kejadian peristiwa tersebut, meski ada sedikit perbedaan antara pehaman kita dengan pehaman mereka. Peristiwa apa yang dimaksud, yaitu peristiwa penyembelihan Ibrahim atas putranya Isma'il yang paling ia sayangi.
           Kita umat Islam sepakat meyakini bahwa putra Ibrahim yang paling disayanginya adalah Ismail, sedangkan mereka (Yahudi dan Nasrani) meyakini bahwa putra tersayang Ibrahim adalah Ishak bukan Isma’il. Dan memang dalam Al-Qur’anpun Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak pernah menyebutkan nama putra tersayang Ibrahim As.
Sebagaimana firmanNya Surat Ash-Shaffat 100 - 103 :
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), maka nyatalah kesabaran keduanya.”
              Ayat tersebut diatas menggambarkan sebuah kehidupan rumah tangga yang penuh mawaddah wa rahmah atau sebuah kehidupan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Dan setiap rumah tangga (keluarga) tidak akan luput di dalamnya dari tiga komponen yang masing-masing memegang peranannya; yaitu seorang ayah, ibu dan anak.
  1. Seorang Ayah yang pernah diperankan oleh Nabi Ibrahim As, beliau adalah seorang ayah yang shaleh dan sekaligus kepala rumah tangga yang tidak hanya tegas dalam memimpin anggota keluarganya, tetapi beliau juga adalah seorang pemimpin rumah tangga yang demokratis dan suka bermsyawarah (Wa Amruhum Syuuro Bainahum = Dan permasalahan mereka hendaklah selalu dimusyawarahkan diantara mereka).
     Sehingga ketika datang kepadanya sebuah perintah agar menyembelih putranya Isma’il  yang nyata-nyata perintah tersebut datang dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang kebenarannya tidak dapat diragukan lagi, apalagi pada saat itu kapasitas beliau sebagai nabi yang mimpinya adalah sebuah kenenaran; tetapi beliau masih meminta pendapat putranya, dan beliau tidak bersikap egois, otoriter, mau menang sendiri dan merasa paling benar sendiri. Sebagaimana ungkapan beliau kepada putranya Isma’il As : "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?"
                       Lain halnya dengan sikap sebahagian kita sekalian, ketika menjadi seorang bapak atau seorang pemimpin dalam sebuah rumah tangga. Berapa banyak diatara kita yang pemimpin rumah tangganya dengan sikap egois maupun otoriter dan merasa paling benar sendiri. Bahkan terkadang kita memaksakan pendapat kepada anggota keluarga bukan meminta pendapat, seperti yang pernah dicontohkan Ibrahim As. Yang lebih ironi lagi ketika pendapat yang kita paksakan kepada mereka adalah pendapat yang sangat controversial dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan na'udzubillah jika ada sebahagian diantara kita berusaha sampai berdarah-darah untuk mempertahankan dan memaksakan pendapatnya yang berkaitan dengan adat kebiasaan nenek moyang, meskipun  nyata-nyata adat-istiadat tersebut bertentangan dengan syari’at agama Islam (ajaran Allah dan rasulNya).  Firman Allah dalam Surat Al-Baqoroh 170 :
              “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".
  1. Seorang anak yang pernah diperankan oleh Nabi Isma’il As, beliau adalah seorang anak shaleh yang tidak hanya sabar, tetapi beliau juga seorang anak yang pandai menghargai pendapat orang lain, yaitu pendapat ayahnya sendiri Nabi Ibrahim As. Ketika hubungan seorang ayah dengan anak atau sebaliknya begitu terjalin sangat harmonis yang penuh kecintaan dan kasih sayang, maka nyaris tidak akan ada hambatan sedikitpun dalam menjalankan roda kehidupan maupun perjuangan. Seperti halnya sebuah bahtra (kapal) di tengah lautan lepas, jika nahkoda dan para awaknya terjalin hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang, maka bahtra pun mudah dikendalikan dan selamat sampai ke tempat tujuan meskipun diterpa berbagai macam ombak dan gelombang. Demikian pula hubungan antara Ibrahim As dan putranya Isma’il As, maka ketika beliau meminta pendapat kepada putranya tentang penyembelian atas dirinya, sekali-kali ia tidak menentangnya apalagi melawannya, tetapi ia menjawab :
           "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
                       Demikian pula seharusnya sikap kita terhadap kedua orang tua dan para pemimpin, terhadap orang-orang yang lebih tua dan terhadap orang-orang yang lebih tinggi ilmu pengetahuannya, selama mereka masih berjalan di atas ajaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan sunnah RasulNya, maka kita harus menta’ati perintahnya, paling tidak kita menghargainya.
            Tetapi ketika perintah mereka dan perintah siapapun tidak lagi berjalan di atas ajaran Allah dan sunnah RasulNya, bahkan bertentangan dengan ajaranNya dan ajaran RasulNya, maka kita wajib untuk megindari dan meninggalkannya.
            Sebab kata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ (رواه البخاري)
           “Tidak ada keta’atan terhadap mahluk dalam berbuat makshiat kepada pencipta (Allah Subhanahu Wa Ta'ala).    
  1. Seorang istri (ibu) yang pernah diperankan oleh Siti Hajar, beliau adalah seorang istri shalehah bagi Ibrahim dan seorang ibu bagi Isma’il. Sikap seorang istri shalehah bagi suaminya atau seorang ibu bagi putranya bagaikan filter yang selalu menetralisir permasalahan keluarga dan menyeimbangkan keadaan; bukan menambah permasalahan keluarga dan bersikap berat sebelah.
      Oleh karenanya, seorang istri harus pandai membaca situasi dan tidak banyak berkeluh kesah kepada suami sebelum berkeluh kesah kepada Robbul ‘Izzati, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ingat peristiwa yang pernah menimpa Siti Hajar bersama putranya Ismail As pada saat mereka kehausan yang amat sangat, ia tidak mengeluh kepada Ibrahim sebagai suaminya, karena pada saat itu Ibrahim tidak ada di sampaing mereka; dan kalau pun ada, Ibrahim belum tentu sanggup atau mampu mencarikan air bagi mereka. Tetapi ketika ia mengeluh dan meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, seketika itu air pun memancar tiada henti dari bawah hentakan kaki Isma’l As, yang sekarang menjadi sumur zamzam. Kata Rasulullah dalam sabdanya : “Walaupun hanya tali sandalmu yang putus, maka mengeluhlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd !
Kaum Muslimin rahimakumullah !
           Peristiwa penyembelihan Ibrahim atas putranya Isma’il kemudian diabadikan dalam manasik haji Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lewat upacara Lontar Jumrah ‘Aqobah,  dan dijadikan salah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan oleh siapapun yang tengah melaksanakan ibadah tersebut.
            Dan peristiwa penyembelihan Ibrahim atas putranya Isma’il kemudian diabadikan pula dalam sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang disimbolisasikan lewat penyembelihan atau pemotongan hewan kurban yang dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin.
            Seusai melewati peristiwa tersebut Ibrahim bersama putra dan istrinya sangat bersuka cita atas kemenangannya melawan hawa nafsu dan godaan syetan yang bertubi-tubi datang kepadanya. Dan dalam keadaan bersuka cita yang sangat mendalam, Ibrahim bersama putra dan istrinya tiada henti-hentinya mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd !”.
            Satu hal lagi yang patut kita teladani dari peristiwa tersebut diatas, yaitu bahwa Ibrahim adalah sesosok manusia yang menyadari hakikat dirinya sebagai seorang hamba beserta kewajiban-kewajibannya, sekaligus beliau juga menyadari siapa Tuhannya beserta hak-hakNya. “Man ‘Arafa Nafsahu ‘Arofa Robbahu” ( barangsiapa yang mengenali dirinya ia akan mengenali tuhannya).
            Kecintaan Ibrahim kepada Tuhannya sampai pada tingkatan mutlak. Baginya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah segalanya. Karena itulah, demi kecintaan kepada Tuhannya, Ibrahim As tidak pernah merasa berat hati meski Allah Subhanahu Wa Ta'ala memintanya untuk mengorbankan putra tercintanya Isma’il As yang puluhan tahun ia nantikan kehadirannya. Demikianlah Ibrahim As dengan penuh keihklasan mengorbankan rasa cinta kepada putranya demi mendahulukan cinta kepada Tuhannya. Sedemikian besar cinta Ibrahim As kepada Tuhannya sehingga mampu mengalahkan rasa cinta kepada selainNya. Pantaslah jika kemudian beliau digelari “Kholilullah” atau kekasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala .
            Pengorbanan Ibrahim As kemudian diteladani oleh Baginda Rasulullah Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wa Sallam. Bukan hanya waktu, tenaga, harta dan keluarga yang beliau korbankan, tetapi nyawa pun beliau pertaruhkan demi tegaknya Islam dan kemulyaan kaum muslimin “Li’izzatil Islami wal Muslimin”. Dan pengorbanan beliau juga akhirnya diikuti oleh para sahabatnya, para tabi’iin dan kita sekalian demi tersiarnya risalah dan ajarannya kepada seluruh umat manusia.
            Hari ini bukanlah kesempatan terakhir bagi kita sekalian untuk ikut meneladani sunnah Nabi Ibrahim As dan sunnah Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kuantitas Amal Ibadah, Ukhuwah Islamiyah dan Jihad fi sabilillah. Dan saudara-saudara kita yang tengah melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, mudah-mudahan mereka tidak hanya mendapatkan haji yang mabrur, sa’i yang makbul dan perniagaan yang diterima Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi mudah-mudahan mereka juga menjadi seperti manusia-manusia yang bertauladankan Ibrahim As, Ismail As dan baginda Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wa Sallam. Amin Ya Robbal ‘Alamin !
   بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأَيٰتِ وَذِكْرِالْحَكِيْمِ
فَاسْـتَغِْرُوْهُ إِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar